5 Februari 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya
Banda Aceh (5/2) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat bahwa pada Triwulan IV-2025, ekonomi Aceh mengalami kontraksi sebesar 0,05 persen (q-to-q). Sementara itu, jika dibandingkan dengan Triwulan IV-2024, perekonomian Aceh juga terkontraksi 1,61 persen (y-on-y). Perlambatan ini tidak terlepas dari menurunnya aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi masyarakat, terutama akibat gangguan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir tahun. Sementara itu, secara kumulatif (c-to-c), ekonomi Aceh tumbuh sebesar 2,97 persen, melambat dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai 4,66 persen.
Bencana hidrometeorologi berupa Siklon Tropis Senyar memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Aceh. Gangguan tersebut menyebabkan penurunan produksi pertanian akibat gagal panen, kerusakan perkebunan dan hortikultura, serta terganggunya aktivitas industri. Selain itu, kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, dan jaringan listrik turut menghambat konektivitas dan mobilitas barang serta jasa. Kondisi ini berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Meski demikian, proses pemulihan mulai berjalan melalui penyaluran bantuan pemerintah, dukungan masyarakat, serta pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur secara bertahap.
Struktur Ekonomi dan Lapangan Usaha Utama
Struktur perekonomian Aceh tahun 2025 masih didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusi 32,74 persen terhadap PDRB. Selanjutnya diikuti oleh sektor perdagangan sebesar 15,10 persen dan sektor administrasi pemerintahan sebesar 8,95 persen. Ketiga sektor ini menjadi fondasi utama perekonomian Aceh sekaligus berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja.
Dari sisi pertumbuhan, lapangan usaha dengan laju pertumbuhan tertinggi sepanjang tahun 2025 adalah transportasi dan pergudangan (6,00 persen), penyediaan akomodasi dan makan minum (4,81 persen), serta industri pengolahan (4,63 persen). Sementara itu, sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari sektor pertanian, diikuti oleh perdagangan dan transportasi dan pergudangan.
Pertumbuhan Ekonomi Menurut Pengeluaran
Ditinjau dari sisi pengeluaran, perekonomian Aceh tahun 2025 masih didominasi oleh komponen ekspor barang dan jasa, diikuti oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi secara kumulatif didukung oleh tiga komponen pengeluaran, dengan pertumbuhan tertinggi pada ekspor barang dan jasa sebesar 8,41 persen serta pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar 4,64 persen. Sementara itu, pengeluaran konsumsi pemerintah dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) masih mengalami kontraksi. Di sisi lain, impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang PDRB juga mengalami pertumbuhan.
Kemiskinan Menurun
Persentase penduduk miskin di Aceh pada September 2025 tercatat sebesar 12,22 persen, turun 0,11 persen poin dibandingkan Maret 2025. Jumlah penduduk miskin mencapai sekitar 703 ribu orang, berkurang sekitar 1,36 ribu orang. Penurunan ini sejalan dengan peningkatan pengeluaran akhir konsumsi rumah tangga, kenaikan rata-rata upah buruh, serta menurunnya tingkat pengangguran.
Garis kemiskinan pada September 2025 tercatat 715.103 rupiah per kapita per bulan, naik 5,75 persen dibandingkan Maret 2025. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas makanan, yang masih mendominasi pembentukan garis kemiskinan.
Secara wilayah, persentase penduduk miskin di perkotaan sebesar 8,15 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 14,51 persen, menunjukkan bahwa tantangan kemiskinan masih lebih besar di wilayah perdesaan.
Ketimpangan Pengeluaran Masih Terkendali
Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Aceh yang diukur melalui Gini Ratio pada September 2025 sebesar 0,274, menurun dibandingkan Maret 2025. Berdasarkan ukuran Bank Dunia, persentase pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah mencapai 23,36 persen, yang menempatkan Aceh dalam kategori ketimpangan rendah.
TPT Turun
Kondisi ketenagakerjaan Aceh pada November 2025 menunjukkan perbaikan. Jumlah angkatan kerja mencapai 2,72 juta orang, dengan penduduk bekerja sebanyak 2,56 juta orang. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 65,13 persen, menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk usia kerja masih aktif secara ekonomi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 5,60 persen, turun 0,04 persen poin dibandingkan Agustus 2025. Lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah pertanian, perdagangan, dan administrasi pemerintahan. Dari sisi kualitas kerja, sebagian besar penduduk bekerja masih berada pada sektor informal, yakni sebesar 63,80 persen.
Narahubung Media
Dina Nirmala Sari
Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh

Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh (Statistics of Aceh Province)
Jl. Tgk. H. M. Daud Beureueh No. 50 Kuta Alam Banda Aceh
Telp: (62-651) 23005
Mailbox : [email protected]
Tentang Kami
Sumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital
Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik